Diduga ada joki yang menyamar jadi peserta abal-abal yang menyusup dalam ruang ujian untuk menjawab soal-soal. Setelah selesai, dia keluar dan mengirimkan jawabannya kepada peserta ujian yang sudah membayar seharga US$ 330 per siswa.
Menurut pendapat salah seorang konsultan pendidikan di Beijing, bernama Jiang Xueqin. sistem pendidikan di China telah berperan dalam budaya mencontek ini.
"Kecurangan ini begitu meluas karena pemerintah hanya fokus agar peserta mendapat ijazah, bukan keterampilan yang dibutuhkan di tempat kerja." ujar Xueqin
Kata Xueqin, seharusnya ruang ujian dilengkapi dengan alat metal detector, atau kalau perlu sistem pengamanannya lebih tinggi daripada di bandara, ini untuk mencegah adanya kecurangan atau menyontek dengan alat bantu yang canggih.
Kepala ujian setempat, Du Fangshui, menegaskan bahwa bagi yang ketahuan berbuat curang dilarang mengikuti ujian lagi selama dua tahun kedepan.